Top ↑ | Archive | Ask me anything | Submit

Menurut gue, Film yang baik itu adalah film yang bisa memainkan emosi si penoton dan meninggalkan kesan bagi penonton diakhir filmnya.
Contohnya film pendek David Altobelli ini. Walau tanpa dialog, namun perpaduan cerita dan scoring yang dipilih memang sangat mengena. 

Ah… jadi pengen bikin film lagi.

p.s.: Versi HD lebih mengena 

With A Little Help From My Friends

Teman: Beneran, kalo kita punya kemampuan musik yang mumpuni, kita bakal mengguncang acara musik kampus ini dengan semua kemampuan kita.

Saya: Betul, kita akan mememenuhi telinga penonton dengan lagu-lagu Beatles yang mungkin mereka belum ketahui.

Teman: Ya. Sayangnya, kita hanya memiliki selera dan passion yang baik saja. Tidak diimbangi dengan kemampuan bermusik yang handal.

Saya: Memang Tuhan itu Maha Adil.

Sebuah percakapan saya dan karib saya ketika melihat suatu kompetisi musik di kampus kami.

"Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi."

- Soe Hok Gie (via kuntawiaji)

(via ilhamsas)

The Yellow Umbrella

Untuk yang mengikuti Serial How I Met Your Mother sampe akhir pastinya sudah tahu ini. Payung kuning merupakan perlambangan the one yang selama ini Ted Mosby cari di sepanjang serial yang hingga kini sukses membuat saya terus penasaran mengikuti. Hingga ada momen di akhir season 6, Ted bilang kepada anaknya sebuah spoiler dalam kilas balik kisah pencariannya, “Kids, I met your mother at a wedding”.

Setelah melihat episode itu saya teringat kisah awal keluarga saya. Dan sempat pula berandai-andai jika Ted Mosby adalah ayah saya, pastinya dialog Ted berubah menjadi “Kids, I met your mother in a Funeral”.

Ya, Pemakaman ada sebuah cerita unik di awal pembentukan keluarga saya. Menurut cerita kakak, ayah bertemu ibu di sebuah pemakaman, saat itu ayah adalah anak kost dari almarhum, sedangkan ibu adalah salah satu dari pelayat. Sesuatu yang aneh mungkin.

Tuhan memiliki keajaiban sendiri untuk menentukan penanda bagi tiap orang dalam lompatan-lompatan hidupnya, termasuk pertemuan dengan The One dalam hidup kita. Namun Tuhan tidak akan memberi tahu kapan dan dimana hingga kita sendiri berada disaat dan tempat terjadinya. Jadi, percayalah Ia selalu memberi ending terbaik dalam tiap hidup umatnya, jika kita percaya pada-Nya.

asmoroklub:

bonus pin-up majalah vista dan varia tahun 1970an.
mereka sudah hipster jauh sebelum nylon terbit.

Nice Show, Nice Song, Nice Lyric too.

Foster the people - I Would do Anything for you (Live on Letterman).

Oo la love, I’ve fallen in love, and it’s better this time than ever before 
Oo la love, I’ve fallen in love, and it’s better this time than I’ve ever known

Pendidikan Sebenarnya, by Prof Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI).

Ijinkan saya membagi sebuah artikel yang saya temu di sebuah forum kampus. Semoga menjadi bahan renungan kita bersama: 


LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Walau hanya sebuah tugas, tapi ini adalah ikrar saya

Do’akan semoga selalu istiqomah

::What a Day::: Mahasiswa Vs Tulisan Karya Ilmiah

teguhmanto:

In my opinion, adalah mahasiswa yang takut sama kemajuan bangsa kalo ginian aja di protes.

Katanya MAHA-SISWA… kasta tertinggi dalam dunia pendidikan. Tapi perihal bikin tulisan yang terbit di jurnal level regional kampus atau daerah aja protes. Bahkan ada seseorang mahasiswa yang komentar di…

"Apakah kau tidak melihat bahwa singa ditakuti karena ia pendiam. Sedangkan anjing dijadikan permainan karena suka menggonggong."

- Imam Syafi’i